Saya seorang ibu dari dua anak yang sudah menjadi guru di dunia pendidikan anak usia dini kurang lebih selama 7 tahun. Saya sempat berhenti selama 5 tahun, karena saya ingin mengurus anak-anak saya sendiri. Dan tahun ini, anak-anak saya mulai sekolah, saya mulai melepas mereka untuk bersosialisasi. Saya pun kembali menggeluti dunia pendidikan.
Saya hanya lulusan Diploma Ilmu Komunikasi. Saya banyak belajar menjadi guru dari pengalaman saya bekerja di beberapa sekolah, di beberapa daerah. Bukan maksud menggurui, karena basic saya bukan guru, atau bukan maksud menjatuhkan salah satu pihak yang merasa terkait, karena saya tidak memiliki apa-apa.
Banyak orang ingin menjadi guru, dengan alasan "karena saya menyukai anak-anak."
Awal saya memutuskan ingin menjadi guru, karena saya melihat dan berfikir pekerjaan guru itu mudah, bisa pulang cepat, tidak stres, hanya bermain dengan anak-anak, dan lain-lain. Kemudian, saya memutuskan untuk mangambil pendidikan guru PGTK, dan saya terjun langsung menjadi guru usia pra sekolah, di salah satu sekolah dengan program dari luar Indonesia.
Setahun saya belajar menjadi guru, ternyata saya mendapatkan kenyamanan dari anak-anak yang dekat dengan saya. Saya ingin belajar lebih dari sekolah yang lain, dan saya pun pindah ke sekolah yang lain. Di sana saya banyak belajar menjadi seorang guru. Saya mendapatkan kepuasan ketika melihat anak-anak dari tidak bisa, menjadi bisa.
Saya haus akan pendidikan anak usia dini, hingga saya terjun ke dunia pendidikan di daerah lain yang lebih jauh dari rumah saya.
Ternyata, pekerjaan seorang guru itu tidak mudah. Guru harus bertanggung jawab atas pendidikan anak-anak didiknya. Tetapi, saya merasa, guru adalah panggilan hidup saya.
Saya menikmati bermain dengan imajinasi anak-anak, mendengarkan keluh kesah mereka, menemani mereka bermain sambil belajar, dan lain-lain.
Kembali ke dunia pendidikan usia dini, membuat saya cukup terkejut dan terheran-heran. Tahun ini dirasakan oleh saya, banyak perubahan di dunia pendidikan, terutama guru.
Saya bicara guru di dunia pendidikan usia dini.
Krisis moral, saya katakan. Seharusnya menjadi seorang guru itu memiliki sifat dan sikap yang ramah, sopan dan santun. Tetapi, yang saya lihat dan alami sekarang, banyak sekolah yang memiliki guru yang kurang ramah. Ramah di sini antara guru satu dengan guru yang lain. Apa urusannya jika sesama guru tidak ramah?
Jelas akan sangat berpengaruh. Guru itu harus bisa menjadi teladan untuk anak didiknya. Jika sesama guru tidak saling menyapa atau kurang rasa menghargai dan menghormati, bagaimana guru tersebut akan memberikan pelajaran tentang keramahtamahan atau menghargai dan menghormati orang lain?
Tampilkan postingan dengan label teacher. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label teacher. Tampilkan semua postingan
Kamis, 23 Mei 2019
Rabu, 22 Mei 2019
Sekolah dan Guru
Tidak sedikit sekolah yang mendirikan fasilitas pendidikan berdasarkan "bisnis" ketimbang memajukan pendidikan anak Indonesia. Mereka memasang tarif tinggi setiap tahun ajaran dan atau setiap bayar perbulannya. Tetapi, tahukah mams, uang yang masuk kebanyakan untuk perorangan atau untuk pembangunan dan fasilitas sekolah. Fasilitas atau pengembangan sekolah pun terkadang nampak biasa saja. Guru-guru pun dibayar di bawah UMR. So, kemana uang-uang itu melayang. Who knows mams.
For your information, program yang diberikan oleh sekolah "bergengsi" dengan sekolah "paud", hanya berbeda di bahasa. Ok lah, mereka, sekolah yang memiliki program dari luar Indonesia, menggunakan bahasa asing, dan tentu kelasnya sangat "kinclong". Tetapi, menurut mams, apa yang anak usia dini eksplor? motorik kasar motorik halus, berbahasa dan sosialisasi. Apakah PAUD tidak memberikan hal itu sepenuhnya?
Menurut saya, sekolah-sekolah negeri pemerintah lebih berbasis holistik. Di dalamnya banyak sekali anak dalam berbagai jenis karakter, (dulu) berbagai budaya, sekarang sudah berbasis zona, jadi karakter dan lingkungan bermainnya hanya satu daerah saja. Agama bisa saja berbeda, lebih tinggi rasa toleransi.
Tidak bermaksud mengadili sekolah mana pun. Semua sekolah memberikan program pendidikan yang maksimal, yang hanya saya ingin kritik adalah guru.
Guru menentukan sekolah itu bagus atau tidak. Mengapa begitu?
Guru menentukan prestasi seorang anak. Jika anak berprestasi, bukankah sekolah itu menjadi sekolah favorit?
Hal terkecilnya, jika anak merasa nyaman dengan guru di sekolah tersebut, secara tidak langsung, sekolah itu pun akan menjadi sekolah yang menyenangkan untuk anak.
For your information, program yang diberikan oleh sekolah "bergengsi" dengan sekolah "paud", hanya berbeda di bahasa. Ok lah, mereka, sekolah yang memiliki program dari luar Indonesia, menggunakan bahasa asing, dan tentu kelasnya sangat "kinclong". Tetapi, menurut mams, apa yang anak usia dini eksplor? motorik kasar motorik halus, berbahasa dan sosialisasi. Apakah PAUD tidak memberikan hal itu sepenuhnya?
Menurut saya, sekolah-sekolah negeri pemerintah lebih berbasis holistik. Di dalamnya banyak sekali anak dalam berbagai jenis karakter, (dulu) berbagai budaya, sekarang sudah berbasis zona, jadi karakter dan lingkungan bermainnya hanya satu daerah saja. Agama bisa saja berbeda, lebih tinggi rasa toleransi.
Tidak bermaksud mengadili sekolah mana pun. Semua sekolah memberikan program pendidikan yang maksimal, yang hanya saya ingin kritik adalah guru.
Guru menentukan sekolah itu bagus atau tidak. Mengapa begitu?
Guru menentukan prestasi seorang anak. Jika anak berprestasi, bukankah sekolah itu menjadi sekolah favorit?
Hal terkecilnya, jika anak merasa nyaman dengan guru di sekolah tersebut, secara tidak langsung, sekolah itu pun akan menjadi sekolah yang menyenangkan untuk anak.
Sekolah Anak Usia Dini
Bentar lagi masuk sekolah buat si kecil mams.. Termasuk anak saya.
Bingung memilih sekolah yang "cocok" dan tentu "murah"?
Cocok dalam artian apakah anak suka? Apakah mams suka? Apakah fasilitas mendukung? Apakah bisa menjamin anak mencapai sasaran yang mams mau?
Murah dalam artian, apakah harga yang diberikan setara dengan fasilitas yang didapat?
Tidak sedikit sekolah PAUD atau TK yang memberikan harga murah, tetapi fasilitas cukup memadai, hanya saja emak-emak banyak memilih sekolah bergengsi, ternama, favorit.
Karena, banyak emak-emak berfikir kalau harga sekolah mahal, berarti fasilitas dan program sekolahnya bagus.
Oops, no offense mams.. Ada yang termasuk emak-emak itu?
Bingung memilih sekolah yang "cocok" dan tentu "murah"?
Cocok dalam artian apakah anak suka? Apakah mams suka? Apakah fasilitas mendukung? Apakah bisa menjamin anak mencapai sasaran yang mams mau?
Murah dalam artian, apakah harga yang diberikan setara dengan fasilitas yang didapat?
Tidak sedikit sekolah PAUD atau TK yang memberikan harga murah, tetapi fasilitas cukup memadai, hanya saja emak-emak banyak memilih sekolah bergengsi, ternama, favorit.
Karena, banyak emak-emak berfikir kalau harga sekolah mahal, berarti fasilitas dan program sekolahnya bagus.
Oops, no offense mams.. Ada yang termasuk emak-emak itu?
Langganan:
Postingan (Atom)
Guru, Orang Tua Kedua
Percakapan saya dengan seorang ibu dari dua anak. Beliau pun pernah bekerja di salah satu sekolah. Hanya saja sekarang beliau lebih memilih ...
-
Bentar lagi masuk sekolah buat si kecil mams.. Termasuk anak saya. Bingung memilih sekolah yang "cocok" dan tentu "murah...
-
Yess mams, kita semua ini adalah guru. Secara tidak langsung, mams ketika berbicara pada anak sejak dalam kandungan, apakah itu bukan hal ya...
-
Saya seorang ibu dari dua anak yang sudah menjadi guru di dunia pendidikan anak usia dini kurang lebih selama 7 tahun. Saya sempat berhenti ...
-
Teringat ketika saya sedang ikut pelatihan mengajar anak kelas 5 SD. Ternyata konflik yang terjadi sesama teman kelas 5 SD, berbeda dengan k...
-
Merujuk pada kisah guru di dunia pendidikan.. Saya ingin memberi komentar kepada salah satu sekolah yang memiliki program yang saya suka. B...